Kanvas Berlukiskan Engkau (Chapter 1)

  Di antara jalan gang yang sempit, seorang pria berjalan dengan menjepit sebatang rokok di jemarinya. Di hadapannya, ada dua orang pria berbadan kekar, mereka berjalan dengan penuh ke hati-hatian, seperti wanita anggun yang sehabis pulang dari pesta. Merasa diikuti, kedua pria itu berhenti melangkah, sesaat menoleh ke belakang, dan dengan cepat mereka lalu melemparkan pukulan kepada seorang pria yang berada di belakangnya itu. Namun badan kekar mereka tak cukup kuat untuk mengalahkan pria itu, meski seorang diri ia mampu menahan serangan dari dua orang sekaligus. Kedua pria kekar itu memilih lari secepat mungkin untuk menjauhi pria yang mengalahkan mereka, tentu saja ia ikuti kemanapun kedua pria itu pergi, ia lari mengejar mereka sembari menaruh rokok yang masih menyala di mulutnya, sesekali ia menghisapnya tanpa menghiraukan deru nafasnya tak beraturan. Dari jalan gang yang sempit itu menuntun arah ke sebuah pasar yang ramai oleh beberapa manusia yang berlalu lalang, tentunya akan sulit apabila mengejar seseorang di tengah kerumunan. Kedua pria itu berlarian tanpa menghiraukan orang-orang yang berada di sampingnya, ada yang tersenggol maupun dibuat terjatuh ke tanah, sebab yang mereka inginkan ialah meniadakan keberadaannya dari pandangan pria yang tengah mengejarnya itu.

  Seorang pria yang sedang mengejar targetnya itu kemudian menabrak seorang wanita, wanita yang ia tabrak berambut pendek sepundak, dan sama-sama sedang menghisap rokok. Ia terjatuh, kepalanya terus menunduk lalu perlahan pandangannya mengarah ke sebuah lencana polisi yang dijatuhkan oleh seorang pria yang menabraknya itu. Ternyata pria tersebut merupakan seorang polisi. Pria itu menengok ke arah wanita yang ditabraknya itu.

  "Maaf, kau tidak apa-apa? aku harus buru-buru," katanya lalu dengan cepat lekas pergi berlari.

  Wanita itu tetap menunduk, ia tersenyum, lalu saat polisi yang menabraknya itu berada di kejauhan, wanita itu memandanginya, dan berkata dalam hati, itu adalah jarak yang paling dekat denganmu.

  Di penghujung pasar hanya ada jalan buntu yang di batasi oleh tembok besar menjulang tinggi. Akhirnya polisi tersebut menangkap kedua pria itu, dan tentunya sebagai seorang polisi yang tengah menegakkan keadilan, ia memborgol tangan mereka dan juga mengecek setiap saku yang ada dari kedua pria itu. Akhirnya polisi tersebut menemukan beberapa kantung yang berisikan kokain, rupanya mereka yang sedang dikejar oleh polisi tersebut adalah seorang pengedar narkoba. 

  Semburat jingga merona di batas cakrawala, polisi itu berjalan sendiri sepanjang bahu jalan kota, dan saat tiba di sebuah warung kopi, ia menepi.
Seorang pria berusia setengah abad-an menyapanya dengan akrab.

  "Hei Pak Rangga, aku melihatmu di sebuah tayangan berita TV, kamu hebat juga."

  Polisi itu tersenyum sejenak, "itu biasa saja, jangan berlebihan," sambutnya.

  "Sudah jelas sekali hebat, di umurmu yang masih muda, kamu sudah bersinar."

  Rangga, ia menghela nafas, sisi gelap relung jiwanya berkali-kali membisikinya, memberitahu ia bahwa dirinya tetaplah manusia, selalu ada keburukan yang terbenam di dalamnya. Lagi pula ia dapat bersinar juga karena ada bayang kegelapan yang berada di belakangnya. Jauh dalam lubuk hatinya, ia membenci pekerjaannya, menjadi sosok malaikat tidak seperti dirinya saja. Tapi dunia selalu membutuhkan sosok orang yang mewakili simbol kebajikan, meski pada kenyataannya keburukan yang tak pernah terungkap akan selalu ada, ataukah itu hal yang abadi.

  Rangga mendekati sebuah telepon umum di sudut warkop itu, ia memasukan satu koin lalu memencet sebuah nomor yang hendak ia hubungi. Deru suara telepon berdering namun tidak sekalipun mendapatkan pertanda adanya jawaban balik. Usahanya yang ketiga kali pun masih tidak berhasil, ia lalu menganti tujuan nomor yang hendak ia hubungi.
  
  "Halo, apa kabar Jeje?" tanya Rangga, salah satu tangannya mengenggam telepon yang ia lekatkan pada salah satu telinganya.
  
  "Baik kok, kenapa menelpon?" balasnya, suara lembut perempuan keluar dari gagang telepon itu.

  "Aku ingin tahu kabarnya Nike, sudah tiga bulan aku tidak tahu kabarnya."

  "Dia baik baik saja kok, kau jangan khawatir, ia adalah perempuan yang kuat, beberapa hal dapat ia tangani dengan tangannya sendiri," ujar Jeje.

  "Oh baguslah kalau begitu, boleh kuminta tolong? jangan beri tahu Nike bahwa aku menanyakan dirinya."

  "Iya tenang saja."

  Rangga menutup telepon sembari menghembuskan nafas panjang dengan berat, berharap beban yang ada pada dirinya ikut terhempas jauh mengikuti deru angin kemana ia ingin pergi. Melihat Rangga yang nampak lesuh, seorang pemilik warkop itu merasa iba, sebagai seorang pria yang merasa ulung perihal percintaan, ia datang menghampiri Rangga lalu menepuk bahunya dan berkata, "Sudah lupakan saja Nike, setiap kali kau menelpon seseorang, kau selalu menyebutkan nama Nike."

  "Kau benar Pak," sahut Rangga.

  "Carilah Nike yang lain, dia baru masuk hari ini, dia akan bekerja di warungku." Pemilik warkop itu menunjukkan pandangannya ke seorang perempuan yang tengah melayani pelanggan lain.

  Dia memang Nike yang lain, hanya saja ia tetap berbeda dari Nike yang ada pada kehidupan Rangga dahulu. Esok adalah hari jadi hubungan mereka, seharusnya. Karena mereka sudah putus sejak 3 tahun yang lalu, Nike jarang terlihat di kedua pelupuk matanya Rangga, dan ia hanya dapat menanyai kabarnya kepada teman dekatnya Nike. 

  Rangga berjalan-jalan kembali, saat ia mamandang ke arah langit, ia baru sadar bahwa hari sudah gelap. Di malam hari itu ia menemukan sebuah bar, awalnya ia tak memiliki tujuan untuk pergi ke sebuah bar, hanya saja ia tak sengaja menemukan bar itu dan timbul sedikit keinginan untuk minum, alih-alih ingin membuat dirinya merasa damai sejenak beserta se-gudang kenangannya dengan Nike tak terlalu mengisi separuh pikirannya itu.

  Rangga mendorong pintu bar itu, lampu kerlap-kerlip dan beberapa orang yang sedang berdansa terlihat dari kejauhan. Rangga melangkah mendekati seorang bartender yang tengah membuat sebuah minuman, alasan ia tidak ikut berdansa sebab ia tidak suka lampu yang kerlap-kerlip menyilaukan pandangannya, ia lebih suka cahaya remang-remang yang ada pada meja seorang bartender itu. 

  "Ingin aku buatkan minuman, tuan?" ujar seorang bartender itu.

  "Tentu, terimakasih," sahut Rangga.

  Seraya bartender itu membuatkan minuman untuk Rangga, seorang perempuan berambut pirang datang menghampirinya, ia duduk di samping Rangga. Perempuan itu nampak cantik dengan gaun yang ia kenakan. Perempuan itu melirik Rangga yang sedang melamun menunggu minumannya datang.

  "Tuan polisi, mengapa kau datang ke sebuah bar tanpa seorang wanita?" ucap perempuan itu.

  Rangga melirik balik perempuan itu, "memangnya harus?"

  "Tidak juga, tapi hanya sayang saja seorang pria tampan sepertimu kesepian seperti ini." 

  Perempuan itu bangkit dari tempat duduknya, lalu beranjak pergi kemudian. Sementara itu Rangga menundukkan kepalanya sembari merenung sejenak, selepas itu ia memandang kembali perempuan tadi yang berjalan keluar pintu bar. Di tempat duduk perempuan itu tadi, ada sebuah lencana polisi tergeletak, Rangga dengan cepat mengambilnya, didapatinya itu adalah lencana miliknya. Rangga mengecek setiap saku di kemejanya, ia baru sadar bahwa lencananya telah hilang, lalu bagaimana bisa perempuan tadi menemukan lencana milik Rangga sementara perempuan itu tak sedikitpun menyentuh Rangga.

  "Tuan, tuan!" kata bartender.

  "Oh iya?" sahut Rangga yang telah sadar dari lamunannya.

  "Ini minumannya," bartender itu menyodorkan segelas Whiskey. "Minuman ini cocok bagi anda yang tengah kesepian tuan," ucapnya lagi.

  "Bagaimana bisa kau tahu?" tanya Rangga.

  "Tatapan tuan menyiratkan aura seorang pria yang tengah merindukan seseorang."

  Rangga kembali jatuh tenggelam dalam lamunannya, pada akhirnya Nike akan selalu membelenggu Rangga dengan kenangannya, seolah Rangga hanya mampu diam di balik jeruji yang Nike ciptakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sinopsis Novel Bunga Matahari Tengah Malam

Mawar Yang Mekar Di Namamu

Saat Kehampaan Melebihi Harapan