Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2021

Kanvas Berlukiskan Engkau (Chapter 1)

Gambar
  Di antara jalan gang yang sempit, seorang pria berjalan dengan menjepit sebatang rokok di jemarinya. Di hadapannya, ada dua orang pria berbadan kekar, mereka berjalan dengan penuh ke hati-hatian, seperti wanita anggun yang sehabis pulang dari pesta. Merasa diikuti, kedua pria itu berhenti melangkah, sesaat menoleh ke belakang, dan dengan cepat mereka lalu melemparkan pukulan kepada seorang pria yang berada di belakangnya itu. Namun badan kekar mereka tak cukup kuat untuk mengalahkan pria itu, meski seorang diri ia mampu menahan serangan dari dua orang sekaligus. Kedua pria kekar itu memilih lari secepat mungkin untuk menjauhi pria yang mengalahkan mereka, tentu saja ia ikuti kemanapun kedua pria itu pergi, ia lari mengejar mereka sembari menaruh rokok yang masih menyala di mulutnya, sesekali ia menghisapnya tanpa menghiraukan deru nafasnya tak beraturan. Dari jalan gang yang sempit itu menuntun arah ke sebuah pasar yang ramai oleh beberapa manusia yang berlalu lalang,...

Mawar Yang Mekar Di Namamu

Gambar
Kepada mawar merah yang melambangkan hati dan sedikit sayatan darah,  semerbakmu menghipnotis indera penciuman, aromanya mengingatkanku pada sebatang kayu basah yang tak mampu memuat bara api di tengah malam sunyi. Dan sekujur tubuhku membeku, namun terasa meleleh begitu saja saat berada dalam dekapmu. Baumu yang khas meniadakan aroma sepi, riuh lantang seisi makhluk hidup malam tak mampu menyusup telinga, sebab ada tawanya yang hidup di lorong telingaku, ada aromanya yang tercium di hidungku, dan ada yang menari-nari di pikiranku; namamu lah itu.

Terhempaskan Waktu

Malam itu aku berbincang denganmu melewati perantara doa, menceritakan hidupku yang hilang arti di bandingkan saat senyummu hadir menghiasi. Di bawah tirani garis waktu, kita perlahan lenyap, jauh terpencil dalam belantara hati, dan terpautkan oleh jarak yang membelenggu, seolah ditakdirkan untuk menebas ikatan antara aku dan dirimu. Yang tersisa dari kita hanyalah puing-puing kenangan yang sempat dihempaskan oleh badai waktu, sementara dirimu laksana senja yang terlukis di batas cakrawala, indah dalam renungan namun sejatinya mustahil aku genggam. Waktu seakan cepat berlalu tatkala malam membaluti senja dengan gulita, kau hilang, dan aku hanya mampu merajut kata di bilik aksara; "Semoga kau selalu menemukan kedamaian di setiap cangkir kebahagiaan yang kau teguk dalam dalam."